Sabtu, 09 Februari 2013

bila manusia hidup tanpa sosialisasi

Sosialisasi bukan hal yang baru dalam kehidupan kita, karena melalui sosialisasi, kita baru bisa memahami kebudayaan masyarakat di sekitar kita. Tidak ada yang bisa hidup tanpa yang namanya sosialisasi. Pernah nontoh George the Jungle Man? Ternyata kita dapat memahami betapa pentingnya bersosialisasi dengan makhluk yang memiliki kodrat yang sama dengan kita. Tarzan dalam film tersebut, yang namanya George, hidup dan tumbuh bersama orang utan. Perilakunya pun seperti orang utan, baik dari cara makan, berjalan, komunikasi, maupun bermain. Ketika manusia datang ke hutan tersebut, mengajarinya berbicara, menari, makan, dan berjalan yang benar, ia merasa lebih hidup dan menyadari, dunia seperti itulah yang harusnya ia miliki.

Dalam film itu, ia dapat bertahan hidup. Mengapa? Menurutku, karena itu di dalam film. Dalam kehidupan nyata seperti yang kita hadapi saat ini, harus aku akui, aku memiliki keyakinan penuh bahwa manusia benar-benar menggantungkan hidupnya pada orang-orang di sekitarnya. Tanpa sosialisasi, aku mungkin saja tidak ada di dunia ini. Misalnya, bagaimana bisa orang tuaku bertemu, tanpa sosialisasi? Bagaimana bisa mereka menikah secara resmi tanpa mengetahui norma yang baik, tanpa sosialisasi? Bagaimana mungkin mereka mengerti cara untuk memproduksi seorang anak hingga keluar seorang Jenny Florentina? Bagaimana bisa mereke mengerti tanpa pernah berguru pada seseorang yang berpengalaman, yang mengerti?

Aku sadar bahwa aku sendiri tidak bisa hidup tanpa bersosialisasi. Ketika aku duduk dan menulis apa yang kupikirkan di atas selembar kertas ini, aku bersosialisasi dengan teman-teman untuk memperoleh setitik cahaya pemikiran atas tema ini, dan dengan guruku untuk memahami sosialisasi. Baju yang kupakai ini, pena yang kugunakan untuk menggoreskan tinta atas ideku,  correction pen yang membetulkan tulisanku, buku yang membantu imajinasiku, penggaris untuk membuat garis tepi, bahkan tempat yang aku diami saat ini, semuanya karena bantuan orang lain. Bagaiamana bisa aku berhenti untuk tidak belajar, sedangkan di tiap detik dalam hari-hari yang mengisi kehidupanku, aku masih perlu mengerti segala sesuatu yang baru. Selalu ada yang baru. From womb to tomb, dari rahim ibu, hingga ke makam, aku membutuhkan pelajaran yang pastinya aku dapatkan atas pertolongan orang lain. Kalaupun ada yang berkata, bisa mencari tahu sendiri tanpa bantuan orang lain, aku yakin 100% itu Cuma bullshit, omong kosong. Bagaimana kita? Internet ada, berkat orang lain. Komputer ada, juga berkat orang lain. Informasi tersedia pun berkat orang lain. Takkan pernah yang akan benar benar ada di dunia kenyataan ini, tanpa sosialisasi.

Manusia memerlukan sosialisasi dalam mengembangkan dirinya dan hidupnya. Bahkan orang yang menderita cacat mental; yang merasa mereka memiliki dunianya sendirian pun, kenyataan tidak begitu. Imajinasi itu muncul dari segala sesuatu yang ia lihat dalam dunia yang sesungguhnya sudah menerima kehadirannya, bukan sekedar bermain di dunia fantasi pikirannya tanpa melihat apa yang ada. Meski demikian , sosialisasi dapat menyembuhkan orang cacat mental. Banyak anak-anak di Singapura yang begitu banyak pula yang sembuh karena bersosialisasi. Sosialisasi yang menyembuhkan mereka, dan memberi tahu bahwa ada bakat dalam tiap mereka yang harus digali.

Tidak perlulah kita membahas mengenai cacat mental kita saja yang hanya sikit kepala, butuh obat yang di produksi orang lain, atau ke dokter. Bagaimana kita mengetahui cara penggunaan obat tanpa membacanya, dan yang mengajari kita membaca pun orang lain juga. Dalam setiap aspek kehidupan yang kita jalani, tidak akan pernah satu detik pun kita menjauh dari sosialisasi ini. Tidak akan bisa.

Sebenarnya, secara pribadi, kepercayaan yang aku miliki atas dasar sosialisasi. Kehidupanku dalam bersosialisasi di sekolah, di rumah, di masyarakat, di Negara, di dunia ini. Aku butuh orang-orang dalam mengajari aku bertindak lebih jauh, berfikir lebih baik, belajar lebih banyak, memahami lebih dalam, dan mempelajari lebih lebih lagi. Aku butuh orang-orang disekitarku untuk mendorong dan memberiku berbagai macam motivasi agar aku dapat meraih cita-citaku dam melangkah lebih jauh. Aku butuh orang-orang untuk menyemangatiku ketika aku jatuh, menopangku agar aku bisa berdiri lagi, dan turut bangga padaku ketika aku sampai puncak harapanku, keinginanku, kesuksesanku.

Jadi, aku tidak bisa hidup tanpa sosialisasi ini. Aku tidak bisa membayangkan tanpa sosialisasi dan tanpa orang-orang lain, aku akan menjadi apa? Hadir seperti apa? Hadir untuk apa? Bernafas demi apa? Ataupun mau berbuat apa?

Selain dari pada tiga unsur penting dalam hidup (nafas, ruang, dan waktu) aku merasa, sosialisasi lah unsur yang tepat ditambahkan ke dalamnya.

0 komentar:

Poskan Komentar